Rabu, 27 Mei 2009

PROM








Hundred bucks for one night

Bisa dikatakan kalau Prom adalah tradisi di high school. Prom adalah pesta dansa di akhir tahun pelajaran sekolah seperti yang sering kita saksikan di film American teenager. Umumnya Prom dikhususkan untuk senior (12 grade) saja. Tetapi di sekolahku, Fort Zumwalt West (FZW), Prom tidak hanya untuk senior tetapi juga junior (11 grade). Sebenarnya pesta dansa di high school tidak hanya Prom saja. Sekitar di awal tahun pelajaran, tanggal 20 September tahun lalu, ada Homecoming Dance, untuk menyambut datangnya musim gugur. Bedanya Homecoming tidak hanya untuk senior atau junior saja tetapi juga untuk freshmen (9 grade) dan sophomore (10 grade), hanya saja homecoming dibagi menjadi 2 hari yaitu untuk freshmen-sophomore dan junior-senior (perlu diingat bahwa high school di USA adalah 4 tahun). Juga ada Coronation Dance yang diadakan tanggal 13 Februari 2009 tepat sehari sebelum Valentine Day. Coronation Dance ini bersifat kasual jadi mereka tidak mengenakan dress atau tuxedo, sifatnya lebih santai. Sayangnya aku tidak mencicipi pengalaman Coronation karena waktu itu sedang menjalani short term exchange di Shelbyville.
Dari ketiga pesta dansa tersebut bisa dipastikan kalau Prom adalah yang paling “wah” dan dinanti. Masih teringat sekitar 6 bulan sebelum Prom teman cewek sudah pada ribut membicarakan masalah dress. Mereka sering sekali membuka website yang menyediakan dress untuk dijual secara online, hanya untuk memastikan dress seperti apa yang ingin mereka kenakan untuk acara Prom nanti. Bahkan juga sudah ada yang mulai diet untuk mendapatkan berat badan ideal saat Prom nanti. Mendekati Prom, semakin gencar persiapan yang mereka lakukan. Cewek, khususnya mereka semakin sering untuk pergi tanning (menggelapkan warna kulit tubuh dengan menggunakan lampu khusus). Akan aku jelaskan bagaimana tanning itu dulu. Jadi kita tidur telentang di dalam kotak mirip peti yang ada tutupnya. Baik dasar maupun penutup itu terbuat dari lapisan seperti kaca yang ternyata didalamnya ada banyak lampu. Yang tanning berbaring disitu selama beberapa menit, lebih kurang 20 menit. Dunia memang aneh. Orang Indonesia yang berkulit kecoklatan ingin memperoleh warna kulit putih ibarat orang bule. Bermacam-macam produk pemutih ditawarkan dan itu sangat laris manis dipasaran. Bahkan ada juga yang samapi pergi ke dokter kulit untuk memperoleh kulit putih. Sementara orang sini yang rata-rata mempunyai kulit putih bersih ingin mempunyai kulit berwarna kecoklatan. Sempat iseng aku bertanya ke Paige (host sister) selepas dia pulang tanning kenapa dia sering sekali pergi tanning, dia menjawab ingin mendapatkan warna kulit kecoklatan karena warna kulitnya terlalu putih. Bahkan dia bilang, “If I can choose the skin color, I wanna have skin color like you Ines. Your skin is not white or black, it’s perfect. I’m jealous with you.” Saat aku ceritakan ke Paige bahwa teman-temanku di Indonesia mereka yang berkulit kecoklatan ingin memiliki kulit putih seperti Paige, dia hanya menatapku tidak percaya. Karena baginya kulit kecoklatan adalah kulit yang sempurna. Itu bukan hanya pendapat Paige saja tetapi juga Linn, teman exchange student dari Norwegia yang berpostur tinggi, kulit putih, rambut pirang, dan bola mata berwarna biru. Figurnya sangat mirip dengan boneka Barbie. Saat aku melihat kulitnya bertambah gelap sebelum Prom dia mengatakan kalau dia pergi tanning hampir tiap hari selama sebulan untuk mendapatkan warna kulitnya. “I don’t wanna to be white. I look like a ghost and so pale. I wanna have color on my skin.” Harga untuk sekali tanning sekitar $15. Jadi teman-teman di Indonesia, terutama para cewek hargailah diri kalian masing-masing. Tidak usah terpengaruh produk pemutih karena orang disini yang kulitnya sudah putih sejak lahir begitu iri dengan kulit kecoklatan yang kita miliki.


Fakta yang cukup mengejutkan adalah bahwa remaja di USA dan para orang tua dengan begitu gampangnya membelanjakan ratusan dolar hanya untuk semalam. Aku sempat menuliskan opini ku di Solitaire (Newspaper di Fort Zumwalt West High School) mengenai kenapa mereka mengeluarkan begitu banyak uang hanya untuk prom. Tulisanku itu bahkan mendapat apresiasi dari guru ku di Newspaper Mrs. Marquez bahwa itu adalah tulisan opini terbaik sepanjang tahun ini. (intermeso, yang masalah penulisan Solitaire nggak usah dimasukin ke media)
Harga yang dibayar untuk prom yang hanya semalam tidak murah. Untuk gaun rata-rata diperlukan $200. Lebih gilanya, ada beberapa gaun yang harganya mencapai $400. Harga yang relatif sama juga untuk tuxedo (pakaian formal pria yang terdiri dari celana dan jas). Pengeluaran tidak cukup sampai disitu saja. Bagi para remaja wanita, mereka juga butuh menata rambutnya sehingga tampilan mereka tidak jauh dari para selebritis Hollywood yang berjalan di atas red carpet. Setidaknya diperlukan $80 untuk menata rambut. Kalau untuk make up, mereka biasa memakai make up sendiri. Jika pergi ke Prom membawa teman date (kencan), mereka harus menyiapkan bunga. Umumnya yang pria membelikan untuk pasangan wanita date-nya, begitu pula sebaliknya. Bunga itu untuk menunjukkan bahwa mereka pergi prom dengan pasangan date-nya. Yang wanita memakai bunga itu sebagai gelang (seperti gelang dari karet elastic yang berhiaskan bunga segar), sedang pria hanya menempelkan bunga itu di sebelah kanan atau kiri dadanya. Selain itu juga ada tambahan biaya untuk dinner, tiket prom, bahkan juga limo.
Berikut aku ceritakan tentang pengalamanku prom tanggal 25 april lalu. Salah satu kesulitan untukku adalah menemukan dress untuk prom. Maklum hampir semua dress tidak memenuhi syarat untuk aku pakai (buka-bukaan). Acara prom termasuk formal jadi diwajibkan memakai dress. Dengan perjuangan keras mom akhirnya dress didapatkan juga. Prom ini diselenggarakan di St. Charles Convention Center (SCCC), oleh karena itu harga tiketnya tidak murah, $60. Selain itu juga karena aku pergi rombongan dengan teman-teman lainnya dan kami memutuskan untuk mengendarai limo. Ada 14 orang dalam rombongan itu dan masing-masing membayar $60. Limo itu disewa mulai pukul 6 pm sampai tepat pukul 12 malam. Acara prom dimulai pukul 7pm-11pm tetapi kami sudah harus bersiap di salah satu rumah temanku, Caitlyn jam 5pm. Sempat berfoto-foto sebentar sebelum akhirnya limo datang dan membawa kami ke front river di St. Charles untuk berfoto-foto lagi. Tiba di (SCCC), sebelum masuk diwajibkan check in, dan juga ada meja panjang yang memajang beberapa foto kandidat King and Queen Prom. Di depan masing-masing foto itu ada toples kaca. Jadi untuk mem-vote siapa yang akan menjadi King and Queen, pemilih hanya tinggal memasukkan kelereng ke toples kaca itu dan tentu saja sebelum mendapatkan kelereng itu mereka mesti melaporkan diri dulu kepada petugas yang bertugas. Masuk ke ruangan, suara dentaman music mulai terdengar ditamah dengan lampu temaram. Bisa dikatakan bagian tengah ruangan itu mirip dengan tempat untuk disko dilengkapi lampu gemerlap dan DJ (disc jockey, orang yang bertugas mengatur music untuk dansa). Sementara di bagian tepi ada banyak meja dengan kursi beserta makanan dan minuman. Ruangan yang sebenarnya cukup luas itu terasa kecil akibat banyaknya orang. Ada juga yang sudah mulai asyik berdansa, ada juag yang tampak asyik menikmati makanan (terutama aku). Tepat pukul 9 malam diumumkan siapa yang menjadi King and Queen. Seperti layaknya di film-film, King and Queen terpilih berdansa di lantai dansa beberapa saat kemudian yang lain pun menyusul ikut berdansa. Dan seperti itulah acara berlangsung hingga jam 11 malam. Acara selesai, masih mempunyai waktu satu jam sebelum sewa limo habis dan akhirnya kami pun berkeliling kota mengendarai limo. Oh ya aku lupa menceritakan limo yang ku naiki seperti apa. Kebetulan limo yang ku naiki berwarna putih. Baru kali itu aku melihat limo secara langsung. Sangat panjang rupanya. Saat masuk limo, kursi untuk penumpang berbentuk menyerupai huruf U. dibelakang kemudi sopir menghadap belakang, di sisi sebelah kiri limo menghadap ke kanan dan yang terakhi di belakang limo menghadap ke depan. Juga dilengkapi dengan meja bar yang bersusun gelas-gelas dan perlengkapan lainnya. Ruang kemudi danpenumpang seperti ada sekat. Dilengkapi dengan CD player dan juga layar kecil (menurutku itu tv yang bisa digunakan untuk menonton film) membuat suasana menjadi nyaman. Menaiki kendaraan mewah memang beda rasanya. Jalannya sangatlah halus, sama sekali tidak terasa bahwa aku sedang mengendarai sebah mobil. Sangat indah saat malam hari. Karena ada banyak lampu di dalam limo yang seolah-oleh ibarat bintang berkelip. Lucunya ada beberapa kendaraan yang mendekat hanya untuk mengambil gambar limo itu. Sewa limo selesai, dan selanjutnya dengan mengendarai kendaraan masing-masing kami pergi makan (lagi) ke IHOP (International House of Pancake) saat dini hari. Setelah mengisi perut, kami pergi ke rumah Brittni untuk sleepover (bermalam di rumah seseorang dan begadang. Biasanya mengobrolkan masalah cewek, nonton dvd dll). Menurut pendapatku tidak ada yang special dari acara prom ini toh itu hanyalah pesta dansa. Aku begitu menyayangkan kenapa demi acara seperti itu dengan begitu begitu mudahnya menghambur-hamburkan uang begitu banyaknya. Apa karena aku yang dilahirkan dan besar di pedesaan? Aku tahu beberapa kota besar seperti Surabaya misalnya mulai mengadakan pesta dansa untuk kelulusan. Aku hanya menyayangkan hal seperti itu. Menghamburkan kemewahan sementara yang lainnya di sudut lain mesti bekerja keras hanya untuk bertahan hidup. Sungguh tragis.

Selasa, 03 Maret 2009

Do you believe in God?

kepercayaan untuk memeluk agama memang mutlak kebebasan setiap orang. memang benar jika USA mendapat julukan negara bebas seperti dalam national anthem yang selalu dinyanyikan setiap hari jum'at di sekolah "Oh the land of the free..."
salah satu hal yang masih sering mengejutkanku adalah jika ada seseorang yang mengatakan "i don't believe with God". kata-kata itu pertama kali aku dengar dari seorang teman ku di Senior Facs, Ashley namanya. dan baru kali itu aku tahu bahwa memiliki kepercayaan (agama) bukan merupakan suatu keharusan disini tetapi adalah merupakan suatu pilihan. kembali teringat perkataan Renan, exchange student dari Brazil. aku sangat takjub saat mengetahui dia tahu banyak tentang Islam mulai dari sholat, wudhu, makanan. dia sempat heran saat tahu aku makan daging disini karena masalah kehalalan. ternyata dia punya teman dekat muslim di Brasil maka dia tahu banyak. dengan sedikit kesulitan aku menjelaskan bahwa aku menghindari makanan yang jelas2 haram seperti babi. yang membuatku terlongok kaget adalah saat mengetahui dia agnostic (hanya percaya bahwa Tuhan itu ada tetapi tidak menganut suatu agama apapun). dia bilang lebih lanjut bahwa dia dalam masa pencarian agama (aku mengamini dalam hati bahwa semoga kelak islam lah yang ada di jiwanya). weekend lalu sempat diajak jalan judith nonton film-nya jonas Brother (Jonas Brother adalah band yang saat ini sedang heboh). ada isil dari turki juga yang diajak nonton. turki dalam bayanganku identik dengan islam terutama akan kerajaan turki ottoman. aku menganggap bahwa itu adalah salah satu negara islam. bahkan mas ku dulu sekali pernah bilang saat aku mendaftar pertukaran pelajar ada nggak negara tujuan turki karena selain sekolahnya bagus itu juga negara islam. disini aku berusaha untuk menghindari pertanyaan pribadi seperti agama misalnya karena itu privasi sekali. aku terkejut saat dulu di rumah diane isil (dari turki) itu makan bacon. aku hanya mengira dia christian. terkejut saat di mobil menuju ke movie theatre saat judith menanyakan apakah dia pergi ke gereja bersama hostfam nya dia menjawab tidak dan dengan santainya dia bilang, "i'm atheis. i don't believe in God". meski saat winter orientasi lalu dia sudah pernah cerita bahwa dia tidak beragama aku masih saja terkejut mendengar pengakuannya. teringat saat awal kedatangan di USA, orientasi di Washington D.C. seorang cowok dari turki menjelaskan dalam diskusi bahwa "turki is not moslem nation". akhirnya perkataan itu jelas artinya saat isil menjelaskan dengan lebih gamblang kalau banyak sekali orang di turki yang atheis. hanya saja sekarang yang duduk di pemerintahan kebanyakan dari partai islam. oh ya pertanyaanku tentang si Ecem (teman sekamar dari turki) dan dia mengaku kalau dia islam tetapi tidak tahu sholat itu apa semakin meyakinkanku kalau turki itu negara islam adalah salah. saat aku iseng tanya kenapa dia tidak percaya tuhan kata-katanya semakin membuatku untuk merenung. "because i born in the family who isn't believe in God. if i were born in religious family for example, probably i'll be religious too" (karena aku dilahirkan di keluarga yang tidak percaya akan adanya tuhan. jika aku dilahirkan di keluarga yang taat beragama, bukan tidak mmungkin aku juga menjadi seseorang yang taat beragama juga). bukan berarti aku sependapat dengan apa yang dipercayai isil. tapi apa yang dia omongkan ada benarnya juga. seberapa sih dari kita yang beragama karena orang tuanya? lihat pada diri kita masing2. apakah kita sreg dengan agama yang sekarang kita anut? apakah bagimu agama sekedar tempelan? karena setahuku beragama merupakan requirement di indonesia atau paling tidak bisa buat penghias KTP. lihat jauh di lubuk hati kita. benarkah walau kita beragama sekarang tetapi yakinkah jika dalam hati kita yakin bahwa tuhan itu ada? janganlah jadi munafik. berapa banyak orang dari kita di indonesia yang mengaku muslim (negara dengan penduduk islam terbesar di dunia) yang mendirikan sholat, puasa, dan mengerjkan kebajikan lainnya? berapa banyak yang mengaku christian tetapi untuk ke gereja yang hanya seminggu sekali saja sering absen? bukan berarti aku membenarkan atheis, tetapi lihatlah kemunafikan pada diri kita. apa artinya jika kita mengaku muslim tapi solat aja nggak? suka minum-minuman? untuk christian tidak pernah ke gereja dan juga agama lainnya tidak melaksanakan apa yang seharusnya mereka laksanakan sesuai kitab suci masing2? tidak malukah? kenapa tidak mendeklarasikan diri sebagai atheis? toh kita munafik kan. mengaku beragama tetapi tidak menjalankannya. setidaknya ada salah satu sisi positif dari seorang atheis yaitu mereka tidak munafik. sekali lagi bukan berati aku atheis dan setuju dengan atheis, tidak, sama sekali aku tidak setuju. menanggapi perkataan isil yang dia menjadi atheis karena keluarganya aku terus berpikir. dia kan punya otak, sudah lumayan besar dan bisa mikir. yang aku tidak habis pikir adalah bagaimana mungkin dia tidak percaya akan adanya tuhan. bagaimana dia bisa menjelaskan adanya dunia ini? kehidupan? kematian? ilmu science pun tidak mampu menungkap itu semua. ain't a perfect person too. terkadang solat bolong juga (sitkon tidak memungkinkan). kalau pas di indonesia sih solat bolong karena m-a-l-a-s. tetapi disini aku sadar, jauh dari semuanya disaat tidak ada yang aku gantungkan, hanya kepada-Nya lah kita berpaling. kita yang butuh, agama bukan merupakan suatu titel lagi bagiku, tetapi jiwa juga. meskipun seringnya aku ke gereja atau ikut perkumpulan grup gereja tidak membuatku luntur akan kepercayaan yang aku kenal sejak lahir saat bapakku mengumandangkan adzan di telingaku. aku sempat iri dan takjub dengan Paige, karena menjadi christian adalah pilihannya dan dia benar-benar konsisten akan itu semua. sementara aku? tidak ada kata terlamabat untuk menuju ke arah yang lebih baik. di usia ku yang sekarang ini, baru aku merasakan aku bebas memeluk agamaku ini, islam. karena sebelumnya meski aku juga sholat, puasa, hatiku belum benar-benar terpatri akan islam melainkan karena keluarga besarku hampir semuanya muslim, istilahnya "warisan islam". semua pilihan kembali ke kita. akan tetapi tidak malukah kita menjadi seorang yang munafik?

Minggu, 01 Maret 2009

SEMINGGU DI SHELBYVILLE (USA ada desanya juga loh)

Seperti yang sudah ku ceritakan sebelumnya bahwa mulai tanggal 7-14 Februari, aku akan tinggal “sementara” di kota kecil, Shelbyville. Masih teringat percakapan dengan dr. Teguh Prartono sebelum aku berangkat ke Amerika dan beliau mengatakan bahwa biasanya para exchange students ke Amerika akan ditempatkan di daerah pedesaan. Saat itu aku berpikir seperti apa ya daerah pedesaan di Amerika? Kebetulan waktu itu aku belum tahu kemana kota tujuanku setelah tiba di Amerika. Jadi aku belum bisa menjawab pertanyaan beliau kemana aku akan pergi. Setelah tiba di Missouri, barulah aku tahu bahwa aku akan tinggal dengan host family di O’Fallon. O’Fallon bagiku bukan merupakan “kota besar”. Meskipun orang di Missouri mengatakan bahwa O’Fallon cukup besar. Karena dasarnya adalah O’Fallon merupakan kota berkembang dengan perkembangan yang sangat fantastis selama 10 tahun terakhir, tentu saja kalah besar dengan “hingar-bingarnya” St. Louis (metropolitannya Missouri). Barulah aku mengangguk setuju bahwa O’Fallon kota cukup besar saat aku hijrah sementara ke Shelbyville. AFS Gateway Missouri (AFS G-Mo) punya tradisi khusus tiap tahun yaitu Short Term Exchange (STE) dimana exchange students yang mendapatkan penempatan di kota kecil mendapat kesempatan untuk merasakan tinggal di kota besar selama seminggu dan sebaliknya. Shelbyville terletak sekitar 115 miles (185 km) atau sekitar 3 jam perjalanan dengan mengendarai mobil. Jarak yang cukup panjang dapat ditempuh dengan waktu yang relatif singkat jika dibandingkan dengan di Indonesia karena umumnya jalanan antar kota adalah highway (mirip dengan jalan tol di Indonesia tetapi kita tidak perlu membayar). Jadi tidak ada kemacetan dan kendaraan bisa meluncur dengan lancar karena ada empat jalur. Tempat kami bertemu adalah di kota Bowling Green karena kota itu terletak di tengah-tengah antara O’Fallon dan Shelbyville. Begini ceritanya kenapa aku bertemu dengan keluarga angkat Shelbyville di Bowling Green. Hostfam di O’Fallon mengantarku sampai di Bowling Green dan Hostfam di Shelbyville menjemputku di Bowling Green. Begitulah mekanismenya sehingga aku bisa sampai di Shelbyville. Saat aku memasuki kota Bowling Green, aku sudah cukup terkejut menyadari betapa kecilnya kota itu. Waktu itu sekitar pukul 6 pm (18.00) tetapi seolah pada jam itu penduduk lenyap. Seperti kota mati yang sepi. Sempat kebingungan untuk mencari tempat dimana Bankhead berada dan kami tidak menemukan orang untuk sekedar menanyakan dimana letak Bankhead. Bankhead adalah nama chocolate factory. Sekedar informasi bahwa Bankhead adalah chocolate factory terbaik di Missouri. Akhirnya aku bertemu dengan keluarga angkatku selama di Shelbyville. Dari balik jeep, keluarlah sosok wanita muda yang ku perkirakan usianya dibawah 40 tahun datang menyambutku. Teresa namanya. Oh ya aku akan tinggal bersama keluarga Keller selama di Shelbyville. Teresa adalah seorang petugas kesehatan di klinik kecil di Shelbyville sementara suaminya, Paul adalah pensiunan militer Amerika. Mereka pernah tinggal di Inggris selama 3 tahun dan terus berpindah tempat selama di Amerika berhubungan dengan pekerjaan Paul. Mereka punya dua anak perempuan, Amy Keller (17 tahun) dan Hannah Keller (12 tahun). Dari Bowling Green untuk menuju ke Shellbyville dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Maka Teresa memutuskan untuk istirahat sekaligus makan malam di kota Hannibal. Hannibal adalah kota tempat Mark Twain dilahirkan. Siapakah Mark Twain? Dia adalah salah seorang penulis terkenal. Dibandingkan dengan Bowling Green, Hannibal tampak lebih hidup dan jauh lebih besar. Indikasinya kota itu layak disebut kota besar atau tidak kalau menurutku sih gampang saja. Jika kota itu banyak orang dan banyak resto fast food maka bisa dikatakan kalau itu kota besar (menurut definisi ku). Kami pun singgah sejenak di Burger King (salah satu fast food yang cukup digemari di USA). Aku melihat seperti ada pesta ulang tahun di dalam karena begitu banyak orang. Saat aku melangkah masuk, tampak semua mata tertuju ke arahku. Tidak terkecuali juga pelayan di Burger King yang bertugas menerima order dari pembeli tampak menatapku heran. Akhirnya baru aku menyadari apa yang membuat mereka menatapku sedemikian herannya. Ya aku menyadari masalah jilbabku (mungkin itu aneh dimata mereka dan kemungkinan mereka berpikir kalau aku tidak mempunyai rambut maka dari itu aku menutup kepalaku). Mereka memang tidak berkomentar apa-apa. Tetapi dari cara mereka memandang tentulah kita bisa memahami arti pandangan mereka. Jujur saat aku sedang jalan di area O’Fallon atau St. Louis (kota besar umumnya), orang-orangnya cenderung cuek. Tidak ada yang memperhatikan satu sama lain. Aku sih hanya tersenyum saja menyadari itu semua. Sedikit banyak pengalamanku di Hannibal itu menyiratkan tanya dalam benak. Mungkinkah di Shelbyville nanti aku adalah muslim pertama yang menginjakkan kaki disana? Untuk mengetahui jawabannya, ikuti terus kisahku seminggu di Shelbyville.


-------------------------------------------------------------------------------------


Bisa dipastikan jika setiap orang Indonesia ditanya tentang USA, gemerlap kotanyalah yang akan terbayang. Tetapi tahukah jika di Amerika pun ada daerah country alias pedesaan? Hanya selisih 3 jam perjalanan dengan mobil antara O’Fallon dan Shelbyville tetapi benar-benar berbeda 180 derajat. Perjalanan dari Hannibal ke Shelbyville masih sekitar 1 jam tapi sudah mulai kurasakan perbedaannya. Sepanjang perjalanan yang ku lalui sangatlah sepi. Hanya ada satu dua truk yang melintas. Aku tidak melihat adanya bangunan. Aku masih bisa maklum karena kami melintasi highway. Highway itu seperti jalan tol kalau di Indonesia tetapi kita tidak perlu membayar untuk melewatinya. Hingga akhirnya Teresa keluar dari highway dan berkata, “Welcome to the Shelbyville.” Sedikit terkejut karena hanya gelap yang dapat ku lihat (maklum malam hari) ditambah tidak ada kendaraan lain yang melintas (perkiraan waktu sekitar jam 8 malam) dan jalan yang ada hanya dua jalur (bukan 4 jalur seperti yang biasa ku ketahui). Jalan sangat begitu lengang ditambah dengan tidak ada kendaraan lain yang melintas atau pun bangunan yang dapat ku lihat. Hanya hamparan lahan yang luas yang dapat terlihat. Aku perkirakan itu adalah area persawahan. Lebih lanjut Teresa menjelaskan kalau di Shelbyville hanya ada satu gas station (pom bensin), satu grocery store (mini market, yang ukurannya jauh lebih kecil dari indomart), dan satu restaurant family. Jadi paling tidak Teresa harus pergi ke kota besar terdekat seperti Hannibal atau pun Quincy (letak Quincy di state Illinois) jika ingin membeli kebutuhan lainnya. Keterkejutanku belum berhenti sampai disitu. Saat berbelok menuju jalan masuk ke rumah, jalanannya belum beraspal. Pantas saja mobil Teresa tampak kotor dan berdebu sehingga membuat celanaku belepotan lumpur. Mulai dari jalan masuk sampai ke rumah Teresa hanya ada 3 rumah. Benar-benar in the middle of nowhere. Nyaris tidak ada apa-apa. Bahkan tetangga pun tidak ada. Tampak sebuah rumah yang cukup besar dengan pelataran lahan yang sangat luas dan pagar besi untuk memagari anjing dengan 2 anjing besar di dalamnya. Rumah tampak sepi karena Paul, suami Teresa masih ada di Texas selepas kematian Ayahnya pada tanggal 17 Januari lalu. Malam itu aku hanya sempat bertemu dengan Hannah, putri bungsu Teresa yang berusia 12 tahun. Sementara Amy, putri sulung Teresa yang berusia 17 tahun sedang mengikuti pertandingan basket karena dia adalah manager tim basket di sekolahnya, North Shelby. Rumah Teresa cukup besar. Jauh lebih besar dengan rumah mom yang di O’Fallon yang berdempetan dengan rumah lainnya (seperti perumahan di Indonesia hanya saja tidak terlalu rapat berdempetan). Keesokan paginya aku dapat bertemu dengan Amy dan aku juga berkesempatan untuk sekedar jalan-jalan sekeliling rumah bersama Teresa dan tentu saja ditemani dengan dua anjing yang besar itu. Aku merasa berada di hutan rimba. Walaupun musim dingin yang mengakibatkan tumbuhan dan pohon-pohon seolah mati, tapi aku bisa membayangkan betapa lebat dan hijaunya tempat ini saat musim panas. Disekitar rumah itu banyak sekali pohon-pohon besar yang gundul, mirip dengan hutan juga ada sungai kecil yang mengalir. Jika melangkah lebih jauh lagi mulai tampak area persawahan dengan traktor yang sangat besar. Juga ada kolam buatan yang cukup besar. Tempat ini sangat cantik bila summer tiba. Kalau saat musim dingin sih, pemandangannya jelek sekali. Tumbuhan seolah-olah mati dan menjadi coklat. Menurut Teresa, sering beberapa rusa muncul berkeliaran dan rusa-rusa itu memang rusa liar. Rusa itu bisa diburu hanya dalam waktu tertentu. Siang itu untuk lunch Teresa memesan pizza. Tidak ada delivery service (layanan pesan antar). Sehingga kami harus mengambil pizza itu ke sana. Membutuhkan waktu 20 menit untuk mencapai semacam kafe yang cukup besar dengan pengunjung yang ramai itu. Amy bercerita tentang sekolahnya di North Shelby. Mulai dari kindergarten (taman kanak-kanak) hingga high school (setaraf sekolah menengah atas) terletak di bangunan yang sama. Hal yang membuatku terbengong-bengong adalah total jumlah murid yang hanya sekitar 200-an. Jadi hanya ada sekitar 30-an siswa stiap tingkatnya. Klasifikasi di sekolah ini lebih unik lagi. Tidak ada yang namanya middle school dalam tingkatannya. Hanya ada kindergarten, primary school (grade 1-6) dilanjutkan dengan high school (grade 7-12). Saat aku berkunjung ke North Shelby bertepatan dengan spirit week (aku sudah pernah membahas tentang ini sebelumnya). Hari pertama masuk sekolah aku begitu penasaran seperti apa sekolahnya. Apalagi sekolah dimulai pukul 8.30-15.10. Teresa mengantarkan kami ke sekolah. Dibutuhkan waktu sekitar 10 menit dari rumah untuk sampai di sekolah. Dengan bercanda Amy menerangkan kalau aku tidak perlu khawatir tersesat karena sekolahnya sangat kecil. Akhirnya aku pun tiba di sekolah. Bisa dikatakan bahwa sekolah adalah bangunan terbesar di Shelbyville. Sekolah masih cukup sepi. Saat aku memasukinya terlihat lorong sekolah yang tidak begitu panjang. Lantainya yang berwarna coklat sangat kontras dengan loker yang berwarna merah menyala. Sekolahnya ku perkirakan tampak cukup tua dilihat dari karakteristik bangunannya. Aku segera duduk di bangku kayu yang ada di dekat loker. Tidak berapa lama beberapa guru datang menghampiri sambil mengucapkan selamat datang. Setelah itu datanglah Mr. Exkel, school principle (kepala sekolah) datang menyambutku dengan hangat. Beberapa siswa yang datang tampak memandangku dengan perasaan kagok. Aku perhatikan kalau siswa di sekolah ini tidak terlalu heterogen, maksudku tidak banyak pendatang. Aku juga tidak melihat orang Afrika-Amerika. Dalam tingkah laku bisa dikatakan mereka cenderung lebih sopan dari sudut pandang tata cara Indonesia. Di O’Fallon, kami biasa saling berpelukan jika saling ketemu. Dan juga dipastikan setiap pergantian jam di lorong sekolah atau di sekitar tangga banyak sekali pasangan yang sedang asyik berciuman. Bahkan tidak jarang saat di kelas. Terutama siswa ceweknya selalu heboh dalam penampilannya. Dandanan mereka seperti hendak pergi ke acara fashion show lengkap dengan make up, high heels, dress, beserta aksesori serupa. Benar-benar seperti sekolah modeling. Sementara di North Shelby, saat spirit week keebtulan temanya adalah berdandan ala selebritis pujaan. Ada seorang cewek, namanya Olivia. Dia memakai rok mini sekitar 5 cm di atas lutut dan sepatu boots sampai betis, teman-temannya memanggilnya hooker (panggilan terhadap wanita tuna susila). Sementara di O’Fallon, Memang ternyata di North Shelby ada peraturan yang cukup ketat mengenai berbusana. Bahkan kepala sekolahnya pun tidak segan-segan menghukum langsung muridnya jika dia melanggar peraturan atau bersikap tidak sopan. Masalah yang ku hadapi di sekolah itu adalah saat lunch. Kantinnya sangat kecil ditambah dengan hanya menyediakan satu menu makanan. Siswa hanya perlu men-scan kartu lunch mereka dan kemudian membayarnya belakangan. Sementara aku hanya disini untuk seminggu maka aku membayar hanya dengan seharga $1,5 tiap harinya. Memang jika di rupiahkan akan tampak sangat mahal. Tapi jika dibandingkan dengan harga makanan di akntin sekolah di O’Fallon yang harga 1 burger $1,6. Menu makanan di North Shelby termasuk komplit. Karena dilengkapi juga dengan salad, buah, susu, dan pendamping lainnya yang dapat diambil sebanyak yang kita suka. Masalah muncul saat menu makannya adalah ham sandwich dan corn dog (seperti hot dog tapi luarnya adalah corn bread). Jadi terpaksa selama dua hari itu aku hanya makan salad dan buah sementara ham sandwich dan corn dog itu aku kasih ke temanku yang lain. Sosis haram di USA karena terbuat dari daging babi. Ada salah satu kelas unik yang aku kunjungi. Agriculture class (karena Shelbyville adalah daerah pertanian) dan kami sempat berdiskusi banyak tentang agriculture di Indonesia dan Amerika. Aku sangat terbengong-bengong heran saat semua temanku yang ada di kelas menceritakan seberapa banyak lahan yang dimiliki oleh orang tuanya rata-rata sekitar 2000 acre (809 hektar). Sementara aku hanya menjawab memberi perkiraan kalau rata-rata petani di Indonesia hanya punya 10 acre (4 hektar). Pantas saja meskipun status mereka sebagai petani tetapi kehidupan mereka terutama dari ekonomi bisa dikatakan lebih dari cukup. Teknologi mempunyai peran andil yang cukup besar. Dengan lahan yang sebesar itu mereka tidak perlu bersusah payah untuk mengolah lahannya. Semuanya serba mesin. Mereka tetap bisa menabur benih dengan hanya duduk di dalam traktor penabur benih sambil mendengarkan music dan menyalakan ac. Sementara petani Indonesia masih bisa dikatakan tradisional. Terutama tragis rasanya jika mendengar Indonesia Negara agraris tetapi masih mengimpor seperti kedelai dari Negara lain. Mr. Marthen, guru agriculture dengan bercanda mengakhiri diskusi kami, “Hey, don’t forget if you also feed Indonesian with your soy bean.” Karena dia tahu bahwa salah satu tujuan ekspor kedelai di Amerika adalah Indonesia. Aku hanya tersenyum saja mendengarnya. Kapan ya Indonesia bisa jadi Negara agriculture beneran? Dan nasibnya petani jadi lebih baik lagi. Kebanyakan yang untung kalau di Indonesia hanya pedagangnya saja. Sudah lahan tidak seberapa besar, hasilnya tidak banyak, dan harga di pasaran jatuh. Cerita klasik yang selalu mengiringi kehidupan petani.

Jumat, 06 Februari 2009

Mencicipi Snow Ice Cream, Snowman, dan asyiknya Sledding hingga hampir membeku

Missouri adalah salah satu state yang terletak di tengah-tengah USA. Karena itulah, cuaca di Missouri benar-benar di luar prediksi. Suhu berubah sangat begitu cepat. Pernah saat pagi hari suhu mencapai -10 C dan menjelang tengah hari suhu melampaui 10 C.

Salju pertama kali yang ku lihat di Missouri ini pada tanggal 30 November tahun lalu. Saat pagi hari aku terbangun dari tidur, melihat keluar rumah ada lapisan putih menyelimuti permukaan. Salju yang turun waktu itu tidak cukup banyak. Saat itu dengan hanya menggunakan sandal jepit aku keluar rumah menjejakkan kaki di atas salju untuk pertama kalinya. Rasanya tidak jauh beda saat aku menginjakkan kaki di atas pasir yang ada di pantai atau pasir yang biasa digunakan sebagai bahan bangunan rumah. Terasa lembut dan saat kita menjejakkan kaki di atasnya, seolah kaki kita tertanam di dalamnya. Beda sekali dengan saat turun sleet (hujan bercampur es dan salju) dimana aku pernah terjatuh saat aku menginjakkan kaki di path (jalan kecil). Saat turun sleet jalanan menjadi sangat licin. Lebih baik memilih berjalan di atas rumput daripada di path.

Setelah turunnya salju yang pertama itu aku mengira jika salju akan turun lagi beberapa hari mendatang. Kenyataannya aku salah. Salju baru turun lagi pada malam hari tanggal 26 Januari 2009 lalu. Sekolah sampai diliburkan. Inilah uniknya Missouri. Jika kita membandingkan dengan state lainnya, umumnya yang terletak di sebelah utara, tentulah salju yang ada di Missouri tidak ada artinya. Meskipun salju yang turun sangat sedikit saat weekday (hari kerja) sekolah selalu diliburkan. Istilah kerennya Snow Day. Terhitung sejak aku berada disini sudah ada 4 hari Snow Day. Umumnya pihak sekolah akan menelpon rumah untuk mengabarkan bahwa sekolah libur atau kita bisa melihat pengumuman di TV. Yang lebih lucu adalah pernah Snow Day tetapi tidak ada salju yang turun. Memang keselamatan jiwa sangat diperhatikan disini. Jika wind chill (angin yang sangat dingin) dibawah -15 F bisa dipastikan bahwa sekolah diliburkan. Aku sempat menanyakan kenapa itu diliburkan dan jawaban mereka adalah agar anak sekolah yang naik bis sekolah tidak membeku kedinginan terutama saat menunggu bis di pinggir jalan.

Akhir Januari lalu Missouri mendapatkan cukup banyak salju. Terbukti sekolah diliburkan selama dua hari (27-28 Januari). Selama dua hari itu kegiatanku hanya melihat dan mengamati salju. Salju saat pertama kali turun sangatlah indah. Berjatuhan ibarat gula bubuk yang ditaburkan di atas roti dan tanpa suara. Sebenarnya sih lebih mirip dengan ketombe. Karena saat bapakku mengusap rambutnya banyak sekali serpihan ketombe yang berguguran dan itulah yang ku lihat saat serpihan salju cukup lebat di hari pertama (untuk bapak ku, aku minta maaf karena menyamakan salju dengan ketombemu). Tidak berapa lama kemudian permukaan tertutup oleh lapisan putih yang sangat cantik sekali. Tiba-tiba ada yang berubah. Turunlah snowball (bola salju) sebesar butiran bubur mutiara kering yang dijual di toko. Snowball itu berjatuhan lebih cepat dan terlihat cukup jelas walaupun terjadi di malam hari karena kebetulan kondisi di luar cukup terang. Awalnya aku mengira itu adalah cahaya dari lampu. Ternyata tidak, langit tampak lebih terang dari biasanya. Kemudian aku teringat dari berita yang aku baca di internet bahwa gerhana matahari kemungkinan akan terlihat di Indonesia. Ya, mungkin itu pengaruh dari gerhana matahari itu tapi aku juga tidak tahu pasti.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk berjalan kaki melihat sekeliling setelah semalam salju yang turun cukup lebat. Di daerahku hanya mendapat sekitar 6 inch (15 cm) sementara di daerah lain salju bisa mencapai 8-12 inch. Tidak ada rumput kering yang tampak. Semua permukaan tertutup salju. Saat sebelum fajar aku melihat dari balik jendela kamar kendaraan pembersih jalan dari salju sedang menjalankan tugasnya. Kendaraan itu mirip dengan truk kecil dan mempunyai semacam sekop di depannya untuk membersihkan jalan dari salju sehingga kendaraan lainnya bisa lewat. Selain itu mereka juga menaburkan Kristal-kristal garam di jalan (bentuknya menyerupai snowball) agar tidak slippery (lunyu, bahasa jawa).

Keinginanku untuk membuat snowman (manusia salju) di hari pertama gagal. Salju yang baru pertama kali turun sangat kempyar (ambyar) seperti memegang segenggam pasir kering. Bedanya salju sangat dingin. Sedingin apakah? Baru sekitar 5 menit aku bermain salju dan itu menggunakan sarung tangan, tanganku sudah membengkak kedinginan, nafas sesak, terutama hidung menjadi sangat dingin dan mengeluarkan ingus. Jika tidak terbiasa, pusing bisa langsung menyerang. Jari tangan dan kaki seolah mati rasa. Kesalahan terbesarku adalah langsung mengguyur jari tangan dan kaki dengan air hangat dari keran dan itu malah memperburuk keadaan. Jari-jari terasa seperti terbakar (wedangen, bahasa jawa).

Kemudian aku juga sempat mencicipi salju yang rasanya seperti es batu saja. Bahkan aku sempat menanyakan kepada mom ku bisakah aku membuat es langsung dari salju? Dan mom menjawab ya. Mulailah aku mengambil gundukan salju di daerah yang aku anggap bersih (daerah yang aku anggap bersih itu jauh dari jejak anjing karena temanku, Joey pernah mengingatkanku untuk tidak mencoba salju yang berwarna kuning karena itu adalah pipis anjing). Aku membuat snow ice cream (es krim dari salju) dan bahan serta cara membuatnya sangat mudah. Cukup campurkan salju bersih dengan gula, vanilla, dan susu cair kemudian di aduk rata. Rasanya meskipun tidak sama dengan es krim yang dijual di toko tapi aku menyukainya. Mirip-mirip es serut yang dicampur sirup dan diaduk rata. Hanya saja es krim salju ini terasa lebih lembut dibandingkan dengan es serut dan sensasi dinginnya juga berbeda. Sensasi dingin es salju ini lebih lembut sementara es serut lebih mengejutkan dinginnya dan bahkan terkadang langsung membuat pening saat sendokan pertama.

Hal lainnya yang umumnya dilakukan saat musim salju adalah sledding. Sledding itu meluncur di atas salju dengan papan seluncur dari atas bukit yang tertutup salju. Rasanya sangat menegangkan. Jangtungku berdetak sangat kencang saat aku duduk di atas papan dan salah seorang teman mendorongku kemudian aku meluncur ke bawah dengan cepatnya. Aku menjerit dan berteriak ketakutan sama halnya saat aku menaiki roller coaster yang sedang meluncur ke bawah. Sensasi ketegangannya tidak jauh beda dengan naik roller coaster. Lebih simpelnya sih, ibarat main perosotan dari tempat yang sangat tinggi. Papan seluncur yang ku naiki berbentuk bundar dengan pegangan di sisi kanan dan kiri serta terbuat dari plastik (mirip wajan datar). Otomatis saat meluncur ke bawah aku tidak hanya langsung meluncur begitu saja, papan yang ku naiki sempat berputar-putar sambil terus meluncur ke bawah sebelum akhirnya aku terlempar dari papan dengan wajah mencium salju. Seluruh badan terbalut dengan salju terutama muka. Temanku hanya tertawa melihat itu semua. Hal yang lebih menegangkan saat sledding adalah satu papan seluncur panjang mirip meja setrika dinaiki oleh beberapa orang.

Meskipun sangat dingin aku terus mencobanya. Hingga aku merasa kalau jari tangan dan kaki ku membengkak dan terasa panas hingga seolah-olah mati rasa. Sarung tangan rangkap tiga yang ku pakai tidak ada artinya karena telah basah oleh salju dan membeku di permukaan serta menambah dingin tanganku. Aku melepasnya dan aku berdiri di luar sambil terus bergerak lebih dari setengah jam tanpa sarung tangan. Aku terus menari atau bergerak-gerak agar tidak terlalu merasakan dingin dan badan sudah sangat capek karena energi terkuras. Saat sledding setelah meluncur dari atas untuk kembali ke puncak kita harus mendaki dan itu cukup sulit karena selain licin juga salju setebal setengah betis cukup menyusahkan gerak kaki untuk melangkah dan tentu saja menguras energi. Kembali kurasakan tanganku membengkak, bibir yang seolah menebal, hidung yang terus berair, dan kesulitan bernafas. Aku juga tidak merasakan jari kaki ku walaupun aku memakai sepatu boot tebal tetapi juga kemasukan salju ditambah kaki ku yang seolah tenggelam dalam salju menambah penderitaan. Akhirnya permainan sledding pun usai karena hari bertambah gelap. Langsung saja kami berhambur ke rumah Jordan (rumah Jordan dekat dengan bukit untuk sledding). Aku melepas celana yang memang aku memakainya rangkap. Tebak, celana panjang bagian luar membeku dan kaku sekali untuk dilepaskan. Penderitaan “membeku” setelah bermain salju terlalu lama belum berhenti. Lebih dari satu jam dengan bersembunyi di balik selimut untuk mengembalikan kondisi tangan dan kaki ke kondisi normal. Kalau tangan dan kaki membeku dan seolah mati rasa, jangan mendekati perapian atau mengguyur dengan air hangat karena akan memperparah keadaan. Dengan setengah berteriak aku berkata ke teman-temanku “I don’t want sledding anymore, it’s more than enough. I’m freezing and almost die.” Mereka hanya tertawa sambil mengusap kepalaku seraya mengangguk setuju kalau mereka terlalu lama bermain sledding dan melupakan orang Indonesia yang tidak terbiasa dingin, kemudian dengan kompak berkata, “Poor Ines.” disertai gurau tawa.

Sabtu, 03 Januari 2009

NEW YEARS 2009. WHAT'S MAKE DIFFERENT?, SAFE AND UNSAFE PARTY



SAFE vs. UNSAFE PARTY

Jika kemarin aku menceritakan sekilas gambaran bagaimana bentuk party (pesta) di Missouri, Amerika Serikat yang tergolong sebagai “safe party” alias pesta yang aman yang bebas dari alcohol, rokok dan sebagainya. Kali ini aku akan menceritakan sedikit pengalaman tentang model pesta yang masuk kategori unsafe. Malam pergantian tahun 2008 menuju tahun 2009 merupakan momen istimewa di Amerika Serikat. Banyak sekali pesta yang diselenggarakan. Kebetulan aku juga mendapat beberapa undangan untuk merayakan pergantian malam tahun baru. Supaya aman, aku memilih untuk pergi bersama Paige (host sister) ke tempat salah satu temannya. Pesta di tempat Jake (teman Paige) ini tergolong pesta aman. Banyak sekali teman yang datang silih berganti. Uniknya, setiap orang yang datang masing-masing membawa makanan. Sehingga kita seperti saling berbagi makanan saja. Pusat kemeriahan pergantian tahun baru di Amerika Serikat adalah di Times Square, New York. Di sana banyak sekali artis dan penyanyi yang mengisi acara untuk memeriahkan pergantian tahun baru. Uniknya, sekitar satu menit mendekati 1 Januari 2009, ada bola Kristal raksasa yang diluncurkan sebagai penghitung waktu mundur. Lebih uniknya, karena di USA ini terbagi menjadi 4 daerah waktu, jadi bola Kristal itu pun meluncur 4 kali mengikuti pergantian tahun di masing-masing wilayah.

Nuansa natal masih cukup terasa di malam tahun baru. Hiasan natal masih terpajang manis di depan dan di dalam rumah. Menurut mom, hiasan natal itu baru akan dibereskan selambatnya seminggu setelah tahun baru. Tradisi tahun baru disini umumnya sama dengan Indonesia. Karena tepat tengah malam kami bersama-sama meniup terompet dan saling meneriakkan, “Happy New Year”.

Setelah itu, aku, Paige, dan beberapa teman lainnya menyempatkan diri ke rumah salah seorang teman lainnya, sebut saja namanya Gram. Aku mengenalnya dari Youth Club (semacam kelompok kerohanian Christiani remaja) yang beberapa kali aku hadiri. Saat pertama kali aku membuka pintu rumah Gram, tercium bau asap yang sudah tidak asing lagi, asap rokok. Sebelumnya, baik Paige dan temanku yang lain sudah memberi tahu ku kalau party di rumah Gram sedikit lain. Hanya karena mereka berteman cukup baik, maka setidaknya sekedar muncul saja di rumahnya itu akan jauh lebih baik. Terdengar suara dentaman music dari arah basement. Ternyata pestanya digelar di basement. Tangga yang ku lalui cukup gelap. Aku hanya bisa meraba-raba dan memasikan setiap langkah agar aku tidak jatuh. Asap rokok tercium semakin kuat. Dan ketika anak tangga telah hampir habis ku daki, tampak cahaya putih yang menyilaukan dan dentaman music yang cukup keras. Ternyata cahaya itu berasal dari lampu disco yang memsng sengaja dipasang. Cahayanya sangat menyilaukan mata. Ku kenali salah seorang temanku, sedang berjoget sendirian. Selain rokok, aku juga mencium aroma lain yang rupanya itu adalah aroma minuman keras. Terlihat beberapa gadis yang tidak ku kenal sedang duduk-duduk di dekat meja bar dengan latar belakang poster “Budweiser” salah satu merek alcohol, sedang menuangkan alcohol di gelas mereka. Sementara itu, di dekat pintu, ku lihat beberapa pria mengerubungi seorang pria yang sedang jongkok. Dia muntah-muntah karena tidak terbiasa minum alcohol. Kepulan asap rokok begitu pekat. Saat pintu sedikit dibuka, asap putih tersebut seolah-olah berebut keluar dan memberikan sedikit udara segar di hidung.

Gram tahu aku dengan pasti kalau aku tidak minum alcohol. Karena selain aku muslim, itu juga peraturan dari pihak AFS. Meski Gram dalam kondisi mabuk pada saat itu, bisa dikatakan kalau dia tetap menghormati kami. Tidak ada seorangpun di tempat itu yang mencoba menawari atau memaksa kami untuk minum. Dalam kondisi mabuk, Gram bercerita kalau orang tuanya tidak terlalu peduli apa yang mereka lakukan saat itu. Masih menurut Gram, orang tuanya tahu apa yang mereka lakukan saat itu. Mereka tidak pernah complain. Lebih lanjut Gram mengatakan kalau orang tuanya tidak begitu peduli dengannya. Gram sempat menunjukka koleksi “Amerika” nya. Dia menunjukkan kamar mandinya dengan nuansa sangat Amerika. Corak bendera Amerika sebagai tirainya dan masih banyak lagi yang lainnya. Dia juga menunjukkan beberapa koleksinya yang bercirikan Amerika.

Kami di rumah Gram tidak begitu lama. Setelah itu kami kembali ke tempat Jake. Selama perjalanan, otakku berpikir keras. Tidak ada suatu Negara pun yang isinya orang baik semua demikian sebaliknya. Kalau kita men-judge bahwa apa yang dilakukan Gram dan temannya itu adalah buruk lalu memberi USA label negatif , kenapa kita tidak buka mata dan telinga lebar-lebar kalau sebenarnya kejadian itu juga sering terjadi di Indonesia yang notabene 80% penduduknya adalah muslim dan sudah sangat jelas kalau hukumnya haram? Lalu dimana kepedulian kita terhadap itu semua? Sekali lagi, dalam kasus Gram di atas tampaknya bahwa peran serta dan control orang tua sangat dibutuhkan. Sejauh manakah orang tua peduli terhadap anaknya?





Rabu, 31 Desember 2008

What The Teenagers Do In USA

mungkin inilah sisi kehidupan dari amerika yang ingin kalian ketahui. mumpung aku lagi liburan dan sekarang sedang tidak mengerjakan apa-apa. oke, sebelumnya apa yang ada di benak kalian atau tebakan kalian tentang bagaimana teenagers USA have fun? kalau aku boleh nebak pikiran kalian (maaf kalau nggak cocok) mereka itu doyan ke mall, club, hura-hura (does anybody can give me definition about hura-hura?), ngerumpi, makan dsb. pasti pandangan kita mengenai kehidupan mereka sedikit banyak kita berkiblat pada apa yang teenagers kerjakan di kota-kota besar seperti Jakarta or Surabaya. secara orang "kota" selalu mengatakan dirinya berkiblat pada modernisasi alias produk asing. nah, amerika kan "mbahnya" segalanya (kata mereka sih). pasti kehidupan mereka jauh lebih waaahhhhhhhh........ is it right? let's check it out :)

weekdays alias hari senin-jumat mereka pergi ke sekolah. sebelumnya aku mau jelasin dulu kalau apa yang aku tulis berdasar ines' point of view. sekolah disini jadwal masuk dan pulangnya bervariasi. tergantung school district atau sekolah masing-masing. kebetulan di sekolahku, Fort Zumwalt West (FZW) sekolah mulai pukul 07.40 am dan selesai pukul 02.15 pm. nah bagi yang aktif atau bergabung di club-club sport, dance, cheerleading hampir setiap hari setelah jam sekolah usai mereka latihan. ibaratnya sekolah tidak pernah sepi. selain itu setelah jam sekolah juga ada "tutor". mungkin bagi teman-temanku di SMAN 2 Nganjuk yang diajar kimia oleh bu Sulistyowati tahu apa itu kegiatan tutoring. tutor adalah semacam pelajaran tambahan bagi mereka yang merasa kesulitan dalam pelajaran. hanya saja tutornya bukan guru, tapi teman sendiri. bedanya tutor disini lebih terorganisasi. bukan hanya guru sekedar tunjuk murid saja (kesannya dipaksakan). mereka yang merasa lebih menonjol dalam materi pelajaran bisa meregistrasikan dirinya untuk sebagai tutor. dan mereka yang butuh tutor itu bisa memilih mereka ingin belajar bersama dengan siapa. serta juga ada jadwalnya. umumnya kegiatan tutor ini dilakukan di perpustakaan. kesadaran mereka cukup tinggi dan tidak ada kesan gengsi. kalau mereka memang merasa kurang mampu dalam kelas, mereka tidak ada segan untuk sign up tutor. memang untuk menjadi lebih baik tidak perlu ada rasa malu untuk belajar.

selain itu juga ada yang mengerjakan pe-er mereka di sekolah. ada juga yang sekedar ngobrol dan kumpul-kumpul bareng temannya selepas sekolah. beberapa temanku juga tetap giat berolahraga sehabis jam sekolah. entah itu cuma lari-lari keliling lintasan. karena sekarang sudah cukup dingin, maka kegiatan lari-lari menjadi di dalam sekolah tidak dilapangan lagi.

nah itulah yang mereka lakukan selama weekdays. umumnya disini mereka semua ada curfew. curfew adalah jam malam kapan mereka harus sudah ada di rumah. umumnya lagi nih ya, saat weekdays jam 9 malam mereka harus sampai di rumah dan saat weekend mereka bisa longgar sampai tengah malam.

juga ada perkumpulan yang dinamakan Youth Group. itu seperti kelompok pengajian-lah kalau di Indonesia tetapi anggotanya para remaja. aku juga sesekali ikut Youth Club itu. Youth Club yang diikuti oleh host sister-ku (Paige) adalah setiap selasa malam pukul 7pm-9pm di rumah salah seorang temannya, Karley. aktivitasnya, membaca bible (injil, kitab suci kristiani) dan kemudian membahas makna yang terkandung di dalamnya juga ada diskusi-diskusi. mereka tahu kalau aku bukan seorang christian. tapi disini respeknya sangat tinggi. mereka menghargai kepercayaan masing-masing. aku malah yang sering terkejut saat mendengar temanku berkata "i'm agnostic" yang berarti dia percaya bahwa tuhan itu ada tapi tidak memeluk agama apa pun. tambah terkejut lagi saat mengetahui beberapa orang lainnya mengaku atheis, yang berarti tidak percaya akan adanya tuhan. memang di amerika sini, bebas. dalam artian kita bebas memeluk agama bahkan tidak beragama pun tidak dilarang. para orang tua juga tidak terlalu menekankan pemahaman agama kepada anak-anaknya. bebas, terserah semau mereka. entah mereka mau pergi ke gereja atau tidak (bagi yang christian) itu pilihan mereka sendiri. kembali lagi ke masalah Youth Club (YC). setiap pertemuan ada Paul (pendeta, pastor) yang membimbing arah diskusi mereka. aku lumayan sering bicara dengan Paul. teringat saat pertama kali ikutan, semua anak mengisi lembar kertas dan aku juga ikutan. disitu ada pertanyaan apa itu christian. dengan polos dan jujur aku mengisi apa adanya. "i just know that christian believe in bible and jesus and i don't know more coz ain't christian". mereka hanya tertawa saja mengetahui aku menjawab demikian. teringat juga saat percakapanku dengan Paul diawal. dia bertanya bagaimana pendapatku mengenai Youth Group itu. ya aku menjawab jujur kegiatan itu bagus. kemudian dia bertanya lagi apa ajaran agama yang aku peluk, islam (dia tahu aku seorang muslim dan juga tahu nama kitab suci umat islam, Quran, tapi mereka menyebutnya Koran. aku berpikir wah koran di indonesia artinya newspaper pak, pikirku sambil tersenyum sendiri). aku menjawab dengan senyum. pada dasarnya ajaran yang disampaikan sama. kebetulan saat itu baru saja membahas tentang orang tua, maka dengan sambil tersenyum lagi (padahal saat pembahasan itu, aku duduk di pojok dan tertidur sssttttt...) aku juga menceritakan bahwa islam juga mengajarkan demikian. aku kemudian bicara lebih jauh. islam juga percaya akan adanya Abraham (Ibrahim), Noah (Nuh), David (Daud), Salomon (Sulaiman), Yesus (Isa) dan kemudian aku menyampaikan conclusion ku bahwa basic nya tiap agama itu mengajarkan hal yang sama, hanya saja caranya yang berbeda. tampaknya Paul cukup puas dengan jawaban yang ku berikan. pernah juga suatu ketika aku duduk di dekat fireplace ada tumpukan bible. aku cukup tertarik karena baru tahu kalau bible itu bermacam-macam. ada bible untuk remaja, wanita dan yang membuatku tertawa adalah saat melihat bible temanku yang bertuliskan "bible untuk orang yang kurang pandai" kemudian Paul mendekatiku dan menawarkan apa aku tertarik dengan bible karena dia punya banyak dan aku boleh memilih mana yang aku suka. dilema, jika kita berkata ya menurut diskusi yang aku daptkan saat orientasi di Jakarta, berarti kita benar-benar berminat untuk mempelajari agama tersebut. denagn tersenyum lagi aku berkata, maaf tapi terima kasih. bahasa bible terlalu tinggi untuk dimengerti sementara bahasa inggrisku pas-pasan (dalam hati aku bersyukur bahasa inggrisku tidak terlalu baik seehingga aku bisa menolak tanpa mesti berbohong). begitulah, kita harus pintar membawa sikap dan menjawab semua pertanyaan yang ada. seperti halnya saat mereka tanya masalah jilbab kenapa aku memakainya. yah aku menjawab singkat saja karena aku muslim dan jilbab adalah sebagai perlambang bahwa aku seorang muslim. muncul pertanyaan lagi apa semua muslim seperti itu? aku menjawab tidak dan kemudia mengembalikan pertanyaan itu ke mereka. apa semua christian memakai kalung salib? kenapa sebagian memakainya dan sebagian tidak memakainya? mereka mulai berpikir dan mendapatkan jawabannya. itulah yang sering ku lakukan, menjawab pertanyaan mereka dengan pertanyaan juga agar mereka berpikir dan mudah memahaminya.

dan saat weekend tiba mereka sangat suka sekali kumpul-kumpul bareng temannya. umumnya sih, ngumpulnya di rumah salah satu temannya. kalau mereka lagi ngumpul kegiatannya main games atau nonton dvd bareng. masalah ke mall, mereka memang suka tapi juga nggak terlalu sering. mereka benar-benar pergi ke mall kalau mereka benar-benar butuh shopping. jarang sekali yang cuma untuk jalan ke mall dan nongkrong di mall. tempat yang sering mereka kunjungi adalah starbucks. starbucks juga ada di indonesia, tapi hanya di kota besar saja.

Sabtu, 27 Desember 2008

CHRISTMAS BUKAN SEKEDAR PERAYAAN AGAMA, TETAPI JUGA TRADISI






Kemeriahan christmas (natal) dalam rangka memperingati kelahiran Yesus atau Isa Almasih sebenarnya telah mulai semarak sehari setelah thanksgiving atau pada saat black friday. Orang-orang sudah mulai berbondong-bondong belanja untuk hadiah natal, menghias rumah dengan pernak-pernik khas natal dsb. Christmas di USA ibarat Idul Fitri di Indonesia. Stasiun radio mulai memutar lagu-lagu Christmas. Bahkan ada salah satu stasiun radio yang sudah memutar lagu-lagu christmas sejak bulan Oktober. Televisi pun juga tak mau ketinggalan. Berbagai macam film special christmas pun diputar. Salah satu hal yang menarik adalah ada stasiun televisi yang memutar film yang sama selama seharian penuh dan itu merupakan film lama yang settingnya 1950-an dan film itu dibuat sekitar tahun 80-an. Puluhan mall menawarkan diskon besar-besaran. Contoh nyatanya, Laptop Sony yang hari biasa dibandrol $750-an dollar, saat menjelang natal kemarin harganya menjadi $500. Gambaran akan perayaan hari kelahiran Yesus itu sendiri tampaknya sesuai yang aku baca dalam buku Rick Warren yang berjudul, The Purpose of Christmas, dimana salah satukalimatnya, "The first purpose of christmas is celebration." Rumah-rumah dihias dengan lampu penjor warna-warni dan christmas tree yang begitu cantiknya. Bahkan, seminggu sebelum christmas (19 Oktober 2008) aku diajak guruku Mrs. Robinson ke state Illinois (maaf nama kotanya aku tidak tahu) untuk melihat Lady of The Snow (LTS). Jadi LTS itu adalah sebuah taman yang luas dimana taman itu berhias lampu-lampu yang dibentuk bermacam-macam dan menggantung pada pohon-pohon. Tidak hanya ada lampu-lampu saja, juga ada puppet show, barang-barang antik dari beberapa negara (sayangnya aku tidak melihat nama Indonesia disana) dan juga ada pameran pohon natal dari berbagai negara. Ari, salah satu temanku exchange student dari Jerman sempat komplain saat melihat pameran pohon natal. Di bawah pohon natal itu jelas tertulis bahwa itu pohon natal Jerman dengan bendera Jerman yang berwarna hitam, merah, dan kuning tergantung pada pohon itu. Tapi lucunya beberapa bendera hanya berwarna merah dan kuning saja. Bukan cukup itu saja, ornament khas Jerman malah tergantung di pohon natal Norway (Norwegia). Aku tahu kalau ornamen itu khas Jerman karena Ari juga memberiku ornamen yang sama. "Nobody in Germany hang the flag at Christmas tree", itu kata yang diucapkan oleh Ari yang membuatku tertawa. Setelah puas menikmati pohon natal, tiba-tiba Jessica berteriak, "Look, Ines, that's Indonesia." Aku kira ada pohon natal versi Indonesia tapi ternyata Jessica menunjuk ke arah miniatur yang menggambarkan kelahiran Jesus. Dan aku melihat ada deretan patung mini beserta nama negaranya. Saat mataku menatap nama Indonesia, aku hanya tertawa terbahak-bahak. Bagaimana tidak, meski aku bukan orang seni tapi dengan mudah aku bisa menentukan itu patung khas Indonesia atau tidak. Patung itu lebih mirip patung milik Mesir karena menyerupai patung Firaun dengan warna biru. AKu hanya tertawa saja melihat itu semua. Mungkinkah Mesir geger karena patung khas miliknya tertulis Indonesia? Seperti halnya Indonesia yang geger karena lagu daerah, tari, makanan, dan batik diklaim Malaysia. Bukan tidak mungkin hal itu terjadi. Kalau di negeri sendiri jelas saja pasti mudah ketahuan. Kalau di luar negeri? Siapa yang bakalan tahu? Nggak akan ada yang tahu kalau misalnya (maaf) batik yang aslinya dari Indonesia diaku oleh Malaysia. Karena apa? Mereka selaku orang asing tidak pernah tahu itu semua. Kita saja yang kalah getol mempromosikan produk Indonesia. Kita baru mulai teriak-teriak itu barang kita kalau sudah diklaim oleh negara lain. Apa kita mau menunggu hingga seluruh kebudayaan Indonesia diaku orang lain? Baru kita teriak-teriak. Dimana usaha kita untuk melindungi itu semua? Kembali ke masalah Lady of The Snow. Disana juga ada tempat untuk menunggang onta (bahkan aku mencobanya) dan juga ada repelika stable yang menggambarkan kelahiran Jesus dalam ukuran besar yang dilengkapi dengan suara-suara orang yang bercakap-cakap juga ada gua buatan di atasnya yang dilengkapi malaikat kecil pada bagian puncak. Mungkin sedikit mirip dengan gua Puh Sarang yang ada di Kediri. Mengutip kembali perkataan Rick Warren dalam bukunya bahwa Christmas is celebration sangatlah tepat. Banyak sekali Christmas Party. Mulai di Club yang aku ikuti (Culture In Action dan Foreign Language), di sekolah (hanya untuk senior saja), bersama AFS, dan di rumah teman. Acaranya bukan seperti yang ada di pikiran pembaca yang pasti membayangkan party ala Amerika mirip dengan ada yang di Movie. Party-nya itu lebih tepatnya untuk lebih mengakrabkan saja dalam momen yang tepat. Acaranya datang, makan, mengobrol, main games, bertukar hadiah. Kebanyakan semua party konsepnya seperti itu. Salah satu hal yang menggelikan saat bertukar hadiah, Veronika temanku dari Ukraine mendapatkan hadiah tidak terduga yaitu tes kehamilan. Kami semua hanya tertawa. Dan itu semua adalah Ulah Antonio dari Italia. Antara Halloween dan Christmas ada persamaan yang mencolok, yaitu sama-sama banyak sekali cookies dan juga candies (kue kering dan coklat). Hampir dipastikan setiap rumah membuat 2 item makanan tersebut. Mereka sangat terkejut saat mengetahui aku blm pernah merayakan natal sebelumnya saat di Indonesia. Memang Christmas di Amerika lebih mengarah ke tradisi. Hampir semua merayakannya. Temanku Robert, dia Jewish (Yahudi) tapi dia juga merayakan Christmas. Baru saat aku menjelaskan kalau christmas di Indonesia hanya dirayakan oleh christian saja, sementara aku islam, mereka baru mengerti. Lucu juga, aku berjilbab tapi ada saja yang tidak tahu kalau aku itu muslim. Saat aku menanyakan kenapa harus menggunakan pohon pine untuk christmas tree, bagaimana jika menggunakan pohon yang lain? Mereka hanya menjawab simpel, karena pada saat winter cuma pohon itu saja yang masih tetap hidup dan menghijau. Christmas ini juga mirip dengan Thanksgiving. Momen keluarga sangat kental di dalamnya. Sehari sebelum Christmas, tanggal 24 desember disebut dengan christmas eve. Mirip dengan suasana menjelang lebaran, selama christmas eve dan christmas banyak restoran cepat saji dan pertokoan yang hanya buka setengah hari kemudian tutup lebih awal karena mereka ingin menghabiskan waktu bersama keluarga. Saat christmas eve dan juga christmas-nya (tanggal 25) biasanya ada makan malam bersama keluarga. Menunya hampir sama dengan Thanksgiving. Kalau tidak ham (paha babi) ya turkey (ayam kalkun). Jika mereka menyediakan ham, pasti mereka menyediakan ayam atau yang lainnya untukku karena aku tidak makan semua yang berasal dari babi. Guruku, Mrs. Robinson mengingatkanku untuk tidak tidur di dekat perapian. "Ines, don't sleep near fire place. Santa won't come to your house", katanya sambil bercanda. Pagi harinya saat christmas (25 desember) adalah hari yang paling ditunggu. Karena itu adalah saatnya untuk membuka semua hadiah yang ada di stocking maupun dibawah christmas tree. Masih menggunakan piyama, aku dan Paige berlomba untuk menuju christmas tree dan membuka semua hadiah. Sekedar informasi saja, hadiah-hadiah itu bukan dari Santa (seperti yang ada di cerita) tetapi dari mom. Dengan mudah aku menemukan hadiah natalku karena di atas kado itu, ada namanya ditujukan oleh siapa. Aku juga dapat hadiah natal dari Paige. Aku juga memberi hadiah natal untuk mom dan Paige, bukan aku yang memberi tepatnya Keluargaku di Indonesia (i love them so much) yang mengririmkannya sebagai hadiah natal untuk mereka. Sekarang aku tahu kenapa Christmas menjadi momen yang sangat dicintai oleh orang Amerika karena banyak orang saling bertukar hadiah, makanan berlimpah, momen keluarga untuk berkumpul dan juga mendapat liburan yang cukup panjang. Bayangkan, aku mulai libur tanggal 22 desember dan masuk sekolah lagi mulai tanggal 5 Januari tahun depan.